Metode Penelitian kualitatif dan kuantitatif

 



By: Desy Mahdalia 
       (223214015)
       Akuntansi 6A


Rangkuman metode penelitian kualitatif dan kuantitatif 


Berdasarkan sejarah sosial, pendekatan kualitatif dibangun berdasarkan tradisi pemikiran Jerman yang lebih banyak mengadopsi pemikiran filsafat Plato yang humanistis. Sebagaimana imana diketahui bahwa pandangan Plato terhadap manusia lebih banyak menempatkan manusia sebagai makhluk yang humanistis daripada manusia sebagai homo Sapiens. Karena itu Plato memandang manusia sebagai manusia, bahkan Plato terlebih melihat manusia dipengaruhi oleh rasionya, karena itu manusia memiliki idealisme. Gagasan-gagasan Plato memengaruhi Edmund Husserl, Martin Heidegger, dan Merleau Ponty. Mereka adalah pelopor aliran feno-menologi, sebuah aliran filsafat yang mengkaji penampakan atau fenomena yang mana antara fenomena dan kesadaran tidak terisolasi satu sama lain melainkan selalu berhubungan secara dialektis. Jadi, dalam pandangan fenomenologi sesuatu yang tampak itu pasti bermakna menurut subjek yang menampakkan fenomena itu, karena setiap fenomena berasal dari ke-sadaran manusia sehingga sebuah fenomena pasti ada maknanya.Pendekatan kualitatif selain didasari oleh filsafat fenomenologisme dan humanistis, juga mendasari pendekatannya pada filsafat lainnya, seperti empiris, idealisme, kritisme, vitalisme, dan rasionalisme maupun humanisme. Dengan kata lain bahwa pandangan yang mengatakan hanya pen5dekatan kuantitatif (positivisme) yang mendasari pemikirannya terhadap empirisme, idealisme, kritisme, dan rasionalisme adalah pandangan yang keliru, karena pada kenyataannya pendekatan kualitatif juga menggunakan semua pandangan filsafat yang juga digunakan oleh pendekatan kuantitatif, tentu dengan bentuk penafsiran yang sesuai dengan kepentingan fenomenologi, hal mana juga dilakukan oleh positivisme terhadap paradigma kuantitatif ketika menafsirkan filsafat-filsafat yang mendasarinya.Dalam tradisi berpikir positivisme, bahwa pendekatan kualitatif dipandang sebagai kri-tik terhadap positivisme, para ahli filsafat menamakannya dengan postpositivisme. Lahirnya postpositivisme karena beberapa hal: (1) secara ontologis, postpositivisme bersifat critical realism yang memandang bahwa realitas memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, tetapi suatu hal yang mustahil apabila suatu realitas dapat dilihat secara benar oleh manusia (peneliti); (2) secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi tidak cukup, tetapi harus menggunakan metode triangulation, yaitu penggunaan bermacam-macam metode, sumber data, peneliti, dan teori; (3) secara epistemologis, hubungan antara pengamat atau peneliti dengan objek atau realitas yang diteliti tidak bisa dipisahkan.Penelitian sebagai sistem ilmu pengetahuan, memainkan peran penting dalam bangunan ilmu pengetahuan itu sendiri. Maksudnya, penelitian menempatkan posisi yang paling urgen dalam ilmu pengetahuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan melindunginya dari kepunahan. Penelitian memiliki kemampuan untuk meng-upgrade ilmu pengetahuan sehing-ga ilmu pengetahuan menjadi lebih up-to-date, canggih, aplicated, serta setiap saat aksiologis bagi masyarakat.Dalam tradisi penelitian kualitatif, proses penelitian dan ilmu pengetahuan tidak se-sederhana apa yang terjadi pada penelitian kuantitatif, karena sebelum hasil-hasil penelitian kualitatif memberi sumbangan kepada ilmu pengetahuan, tahapan penelitian kualitatif melampaui berbagai tahapan berpikir kritis-ilmiah, yang mana seorang peneliti memulai berpikir secara induktif, yaitu menangkap berbagai fakta atau fenomena-fenomena sosial, melalui pengamatan di lapangan, kemudian menganalisisnya dan kemudian berupaya me-lakukan teorisasi berdasarkan apa yang diamati itu.


Dalam penelitian kuantitatif, teori bermanfaat untuk menuntun peneliti agar dapat menemukan berbagai definisi, konsep yang dapat menjadi landasan lahirnya hipotesis, menetapkan metodologi penelitian. Penelitian akan dilaksanakan didasarkan pada berbagai teori yang relevan. Hal ini berarti dibutuhkan kecerdasan peneliti untuk menemukan dan membangun berbagai teori tersebut sehingga dapat menunjukkan berbagai dimensi dan indikator yang dibutuhkan untuk mengukur variabel dimaksud. Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya terkadang ditemukan ketidaksesuaian antara teori dengan fakta yang ditemukan di lapangan. Hal ini bukanlah berarti bahwa di antara teori dan fakta tersebut berlawanan, akan tetapi sesungguhnya justru terdapat saling melengkapi dan semakin mengembangkan teori dimaksud.Menurut Black dan Champion (2001), teori dimulai sebagai gagasan-gagasan. Seberapa baik teori dirumuskan, dipengaruhi oleh ketepatan, kejelasan, yang berbeda-beda. Menurut mereka teori sebagai kumpulan gagasan harus sesuai dengan kriteria:

1. Kumpulan gagasan harus konsisten secara logika. Jangan ada pertentangan internal.

2. Kumpulan gagasan harus saling terkait. Jangan ada pernyataan-pernyataan fenomena yang tidak berkaitan satu sama lain.

3. Pernyataan-pernyataan harus lengkap, yaitu harus meliputi barisan lengkap variasi-variasi menyangkut sifat fenomena yang dipersoalkan.

4. Dalil-dalil harus berdiri sendiri satu sama lain. Harus tidak ada pengulangan atau cuplikan.

5. Kumpulan gagasan harus sanggup menjadi sasaran telaah empiris. 

Sebelum kumpulan gagasan itu bisa diuji melalui penelitian, maka tidak ada jalan untuk menetapkan nilai ilmiahnya.Populasi adalah objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang tetapi juga benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekadar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek itu. Menurut Nazir (2003), populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang telah ditetapkan.Penelitian dengan populasi yang besar terkadang sulit dilakukan jika meneliti keseluruhan populasi, apalagi sebaran populasi tersebut dilihat dari letak geografinya juga berbeda jauh satu dengan lainnya Dalam kondisi seperti ini, tentu saja dalam penelitian kuantitatif dapat dilakukan dengan meneliti sebagian saja dari populasi sebagai sampel sehingga dapat diefisiensikan biaya, tenaga, waktu, dan lain-lain. Persoalannya adalah bahwa sampel yang ditetapkan tersebut haruslah diyakini dapat merepresentasikan populasi sehingga hasilnya dapat digeneralisasikan terhadap populasi tersebut. Untuk itu sudah barang tentu berbagai persyaratan harus dipenuhi melalui penetapan sampel dengan menggunakan teknik sampling yang tepat.Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Menurut Malhotra (2010), sampel adalah subkelompok dari elemen dari populasi yang dipilih untuk berpartisipasi dalam suatu penelitian.


TERIMAKASIH🙏


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buku Teknik sampling